Ada rasa yang terus menggelayut dalam kesendirianku. Dimana tak ada seorang pun yang menemaniku di sekitarku. Aku tak berbicara tentang tak mempunyai seorang teman, aku tak berbicara tentang tak mempunyai orang untuk berbagi cerita, aku tak berbicara tentang seseorang yang egois yang pentingkan dirinya sendiri, aku juga tak berbicara tentang seseorang yang ingin selamanya hidup dalam kesendirian.
Aku berbicara tentang sebuah keintiman yang kurasakan ketika aku berdiri, duduk, berjalan, dan merenung dalam kesendirian. Mereka-mereka yang menjadi temanku hanya dalam sebatas ingatan dan dalam angan. Aku membayangkan tentang duduk di depan perapian kecil yang hangat di tengah hutan pohon yang tinggi menjulang. Di tengah gelap hutan dan dengan segala misterinya aku berada sendirian di tengah-tengahnya, dan aku menatap di sekelilingku, tak ada seorang pun kecuali mata-mata binatang malam.
Keintiman pada diri sendiri ynag benar-benar akan membuat diriku mengenali diriku sendiri sebagaimana adanya. Tentang sebuah pengenalan diri, apa yang telah terjadi padaku di waktu lalu hingga bentuk diriku seperti saat ini. Kontemplasi dalam namun dangkal, perenungan yang akan bawaku pada-Nya, pada Tuhan. Aku ingin hanya berduaan denganNya.
Entah mengapa aku sangat menikmati hal-hal seperti ini. Menikmati saat-saat kesendirianku, saat-saat di mana orang-orang yang kusayangi meninggalkanku untuk sementara waktu (yang aku tahu mereka akan kembali lagi tentunya), dan seolah mereka meninggalkanku berduaan saja. Meninggalkan diriku dan meninggalkan aku. Seolah di hati kecil ini berkata “mereka pergi, mari kita bercumbu”. Entah, jarang sekali aku merasa kebingungan karena tak ada teman di sampingku. Jarang aku merasa kesepian semata-mata karena tak ada orang yang menemaniku hisap sebatang api kecil dan hirup harumnya kopi. Seolah aku merasa selalu mempunyai teman setia di sampingku, yaitu diriku, hatiku, jiwaku, sukmaku. Tak semua orang pahami hal ini, pahami bahwa kesendirian bagiku bukanlah kesendirian yang nelangsa. Tak banyak orang yang mau mengerti bahwa hubungan intim paling nikmat adalah hubungan kita dengan diri kita sendiri. Tapi aku tak begitu peduli dengan apa kata mereka. Selama aku benar-benar masih bisa menikmati keintiman dengan teman sejatiku ini, dengan teman yang aku berani bertaruh dengan nyawaku bahwa dia tak akan pernah khianatiku, aku tak akan ambil pusing apa kata orang. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah bentuk dari ego, tapi tidak bagiku. Ini adalah kesempatanku untuk kenali diriku sendiri. Aku tak akan pernah merasa kesepian dalam kesendirian.
Kawan, kesendirianku bukanlah berarti kesepian. Dan aku harap ada diantara kalian yang paham dan sadari hal ini. Kawan, kesendirian bukanlah alasan untuk merasa kesepian.
Langit. Sungguh sebuah ruang yang tak terbatas.
Laut. Sebuah ruang yang dalam dan menyimpan berjuta misteri.
Langit dan laut. Dua hal yang sangat berbeda, namun memiliki sifat yang sama. Memiliki berjuta misteri yang belum terungkap oleh manusia. Dengan ketinggiannya, dengan kedalamannya, dan dengan keluasannya dia tunjukkan ke-digdayaan-nya. Hingga manusia tak akan bisa membayangkan ketinggian, kedalaman, dan keluasannya.
Tak sedikit ilmuwan atau para ahli dalam astronomi dan oseanografi yang berusaha pecahkan berjuta misteri yang dimiliki oleh langit dan laut. Mereka begitu ingin menguak misteri yang ada. Penemuan demi penemuan pun dihasilkan. Satu per satu misteri yang ada mulai terkuak. Namun itu masih belum cukup memuaskan mereka. Karena hingga saat ini tak terbayangkan misteri yang dipunyai oleh langit dan laut. Para ilmuwan pun tak menyerah berusaha menguak misteri-misteri itu. Meskipun mereka tahu bahwa dengan menemukan penemuan-penemuan baru itu tak mengurangi sedikitpun misteri yang dimiliki oleh langit dan lautan. Dengan ditemukannya suatu temuan itu dan dipecahkannya misteri itu, maka ada misteri lain yang mengikutinya. Dengan memecahkan misteri itu, mereka menyadari bahwa terdapat misteri lagi yang terkait dengan temuan mereka. Seperti efek bola salju yang tak akan pernah bisa berhenti, kian hari misteri itu semakin membesar. Para ilmuwan semakin menyadari bahwa dengan memecahkan misteri, mereka akan menemukan sebuah misteri baru. Tak ada jawaban yang lengkap dari misteri yang ada. Dari satu misteri yang mereka hendak pecahkan mereka mendapatkan satu jawaban namun diikuti dengan menemukan 10 misteri lagi.
Kesimpulannya tak ada jawaban yang utuh yang diberikan oleh para ilmuwan itu tentang misteri langit dan lautan. Dengan adanya 5 misteri yang terkuak dan terpecahkan, mereka menemukan 50 hal yang benar-benar masih menjadi rahasia langit dan lautan. Hal ini yang membuat mereka tak pernah bisa berhenti untuk menguak misteri yang ada.
Lalu jika demikian halnya yang terjadi, mengapa para ilmuwan itu terus menerus melakukan penelitian yang tak akan pernah ada titik akhirnya. Mengapa para ilmuwan itu bertindak seolah bahwa mereka akan menemukan semua jawaban atas misteri yang ada. Mengapa mereka begitu yakin tentang adanya jawaban atas semuat misteri yang ada.
Entahlah.
Mungkin karena sifat dari manusia yang tak akan pernah puas dengan apa yang telah dicapainya. Namun juga karena manusia memiliki bekal kemampuan otak yang sangat luar biasa hingga dari waktu ke waktu sedikit demi sedikit mereka menemukan jawaban-jawaban atas misteri-misteri itu. Walaupun dengan itu mereka justru tidak memecahkan misteri, dengan tidak sadar mereka hanyalah mencari misteri-misteri yang baru yang sebelumnya mereka belum melihatnya. Entah sampai mana kemampuan otak manusia bisa menjawab semua misteri yang ada di alam ini. Dari zaman suku Maya di Amerika Latin sampai saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan benar-benar mencengangkan. Penemuan demi penemuan sepertinya di luar bayangan manusia yang pada awalnya mengatakan “tak mungkin”. Namun dengan kemampuan otak manusia, kata-kata “tak mungkin” yang dikatakan oleh manusia pada zaman dahulu menjadi “mungkin”.
Lalu sampai mana kemampuan otak manusia?
Entah.